Jumat, 24 Desember 2010
Badai Kecil
"kamu tidak takut dia suka sama anak manja itu?" tanya temanku suatu sore. Aku tersenyum meski dalam hati ada sejuta kekhawatiran kalau hal itu akan terjadi. "kalau memang dia suka sama anak itu, ya udah biarin aja. Kalau itu bisa membahagiakan dia." jawabku sok tegar. Padahal, seandainya ada cctv untuk memonitor apa yg sedang bergejolak dalam hatiku, maka yg terekam dalam layar tersebut adalah sebuah kolaborasi keajaiban alam yaitu ketika krakatau bersin lalu lautan merasa rindu tak tertangguhkan dengan daratan (tsunami natal) dan disusul luruhnya keangkuhan salju yg berpose cantik diujung gunung everest. Tetapi hatiku terlalu dalam untuk memuntahkan semua kegaduhan itu, sehingga aku hanya bisa tersenyum atau lebih tepatnya nyengir. Aku benar-benar jelek kalau sedang seperti itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar